Minggu, 06 Februari 2011

Bul-bul n Jangkrik



 Hwaja Goetz Fosil jangkrik langka berkaki lebar yang ditemukan di Brazil ini berusia 100 juta tahun
.
- Para peneliti berhasil menemukan fosil serangga purba yang berusia 100 juta tahun di wilayah utara Brazil. Fosil tersebut merupakan nenek moyang dari Schizodactylidae, serangga serupa jangkrik berkaki lebar yang kini masih ditemukan di wilayah Asia Selatan, Indochina bagian utara, dan Afrika.
Penemuan fosil ini dipublikasikan di jurnal online ZooKeys yang bisa bebas diakses. Meski karakteristik fosil berbeda dengan Schizodactylidae yang hidup saat ini, namun karakteristik umumnya hampir sama. Kesamaan tersebut membuktikan bahwa Schizodactylidae mengalami evolusi statis selama jutaan tahun.
Evolusi statis adalah peristiwa di mana kelompok organisme tertentu hanya mengalami sedikit perubahan genetik dalam rentang waktu geologi yang cukup lama. Sam Heads, ahli serangga dari Universitas Illinois yang terlibat riset ini mengatakan, Schizodactylidae mengalami evolusi statis sejak periode awal zaman Cretaceous, 100 juta tahun lalu.
Studi lain juga menunjukkan bahwa lingkungan tempat moyang serangga serupa jangkrik ini tinggal adalah kering atau kering musiman. Heads mengatakan, "Hal ini menunjukkan, pemilihan habitat dari Schizodactylus, genus dari moyang hewan serupa jangkrik, ini tidak berubah selama 100 juta tahun juga.
Mendeskripsikan Schizodactylidae, Heads mengatakan, "Ini adalah jangkrik berkaki lebar dan kelompok serangga besar yang memiliki kekerabatan dengan jangkrik yang sehari-hari kita kenal." Heads mengatakan, Schizodactylidae mendapatkan namanya dari struktur kaki serupa dayung yang membantunya bergerak di pasir dan mencari mangsa.

Burung bulbul
 Burung bulbul berkepala botak (Pycnonotus hualon).
 Spesies burung bulbul berkepala botak di daratan Asia untuk pertama kalinya ditemukan lagi di Laos setelah tak pernah kelihatan lagi selama sekitar 100 tahun. Nama latin spesies itu adalah Pycnonotus hualon.
Quentin Wheeler dari International Institute for Species Exploration, Arizona state University melaporkan penemuan ini.  Spesies bulbul Asia ini memiliki karakteristik yang khas. Kepalanya botak dengan detail bulu dan warna yang unik. Kicauan dan lengkingan pada setiap lagu yang dikicaukan juga berbeda dengan bulbul lain.
Nama spesies ini diambil dari kata dalam bahasa Lao, hualon yang berarti "kepala botak". Spesies ini ditemukan oleh ilmuwan dari Universitas Melbourne dan Wildlife Conservation Society belum lama ini.
Bulbul Asia ini selama lebih dari 100 tahun telah dideskripsikan keberadaannya di kawasan pegunungan kapur Laos. Upaya penemuan burung di Laos ini dimulai kembali tahun 1990-an setelah 40 tahun mengalami kevakuman dan baru sekarang mendapatkan hasil. Burung tersebut sudah sangat langka dan terancam punah.
 (sunber :  Kompas.com)

Tidak ada komentar: