Rabu, 09 Februari 2011

Sistem Ekskresi Manusia

Peristiwa pengeluaran zat yang terjadi  pada tubuh meliputi sekresi, ekskresi, dan defekasi

Sekresi merupakan pengeluaran zat yang diperlukan oleh tubuh seperti hormon, enzym, dll.  Defekasi adalah pengeluaran sisa/ ampas pencernaan melalui anus.

Ekskresi merupakan pengeluaran zat sisa metabolisme yang tidak diperlukan atau bersifat racun dalam batas jumlah tertentu bagi tubuh seperti NH3,urea, CO2, dll. Proses pengeluaran zat tersebut melalui organ ekskresi yakni : Paru-paru, Kulit, Hati, dan Ginjal

Alat-alat Ekskresi :
1. Pulmo ( Paru-paru)
Paru-paru mengekskresikan CO2 dan H2O yang merupakan limbah peristiwa respirasi
Karbon dioksida dan air hasil metabolisme di jaringan diangkut oleh darah lewat vena untuk dibawa ke jantung, dan dari jantung akan dipompakan ke paru-paru untuk berdifusi di alveolus. Selanjutnya, H2O dan CO2 dapat berdifusi atau dapat dieksresikan di alveolus paru-paru karena pada alveolus bermuara banyak kapiler yang mempunyai selaput tipis.
Karbon dioksida dari jaringan sebagian besar (75%) diangkut oleh plasma darah dalam bentuk senyawa HC03, sedangkan sekitar 25% lagi diikat oleh Hb yang membentuk karboksi hemoglobin (HbC02).

2. Integument ( Kulit )

Kulit terdiri atas lapisan epidermis dan dermis.
a. Lapisan epidermis terdiri dari
  1. stratum korneum
  2. stratum lucidum
  3. stratum granulosum
  4. stratum germinativum dan spinosum 
b. Lapisan dermis terdiri atas : folikel rambut, glandula Sudorifera (kelenjar keringat), glandula Cebaceus (kelenjar minyak), kapiler darah, pembuluh limfa, reseptor.
 Ekskret yang dikeluarkan dari kulit adalah keringat yang  berisi air, didalamnya terkandung garam natrium chloride dan sedikit urea. Ketika kita berkeringat, kita akan mengeluarkan subtansi tersebut dari tubuh kita dapat merasakan bahan-bahan itu telah dikeluarkan dari tubuh. Terkadang berkeringat merupakan respons tubuh karena meningkatnya temperature dan bukan karena perubahan komposisi darah. Pada kasus ini kulit bukanlah organ ekskresi seperti halnya paru-paru dan ginjal.
 3. Hepar ( Hati )

Bagian-bagian Hati
     a. Hepar lobus sinister
     b. Hepar medianus sinister
     c. Hepar lobus dorsalis
     d. Hepar medianus dekster
     e. Hepar lobus dekste

Fungsi Hati
Sebagai alat pengeluaran, hati berfungsi sebagai berikut :

  • menawarkan racun.    (Racun NH3 menjadi Urea)  
    Urea adalah hasil ekskresi /ekskret yang dibuat oleh hati ketika terjadi pembongkaran protein .
    Pada Pembongkaran Protein menjadi asam amino dan pembentukan asam amino 1 menjadi asam amino lainnya selalu dilepaskan Amoniak (NH3) , senyawa nitrogen amoniak ini sangat toksik jika dilepaskan ke darah , maka sebelum dikeluarkan dirombak oleh hati menjadi senyawa yang lebih soft /ramah yaitu berupa senyawa Urea 



    siklus urea
  • menghasilkan cairan empedu (hemin) dengan merombak erythrosit yang tua/rusak menjadi Fe , Globin,  dan Hemin yang dirombak menjadi bilirubin dan biliverdin yang nantinya akan diekskresikan ke usus untuk mewarnai urine dan feses. 


4. Ren ( Ginjal )

Fungsi ginjal :
-Urinasi dan Penyaringan darah
-Pengatur Kadar Air Dalam Darah.
-Pengatur Tekanan Darah
-Menjaga Keseimbangan Kadar Asam dalam Tubuh
-Penghasil Hormon
Bentuk ginjal seperti biji kacang-kacangan dan berwarna merah gelap. Bentuk permukaan luar ginjal, satu sisi terlihat cembung atau bulat, sedangkan sisi yang lain berlekuk.
Ukuran ginjal: Panjang berkisar 10 - 13 cm, dan ketebalannya berkisar 5 - 7.5 cm.
Ginjal terletak di rongga perut bagian belakang, tepatnya disisi kiri dan kanan tulang punggung, dibawah tulang rusuk. masing-masing ginjal dilapisi oleh membran transparan yang disebut kapsula ginjal yang berfungsi melindungi ginjal dari trauma dan infeksi.sisi ginjal yang berlekuk melekat pada pembuluh darah (arteri dan vena)dan saluran ureter yang mengalirkan urin ke kandung kemih.
Fungsi utama dari ginjal adalah membuang limbah beracun dalam darah. Sebagian besar limbah tersebut berisi nitrogen, yang terdapat dalam bentuk urea dan asam urat. Limbah nitrogen tersebut berasal dari proses pemecahan protein dalam sel-sel tubuh.Penyakit-penyakit yang membahayakan akan muncul jika limbah berbahaya ini menumpuk dalam darah. Ginjal yang sehat dengan mudah dapat membersihkan sampah beracun tersebut.
Setiap ginjal terdiri atas lapisan luar  (korteks atau kulit ginjal) yang berisi banyak nefron badan malpighi, tubulus proksimal dan tubulus distal , dan lapisan dalam ( medula atau sumsum ginjal ) yang mengandung tubulus  pengumpul dan lengkung henle yang bermuaradi piala ginjal ( pelvis renalis )
  Satuan struktural dan fungsional terkecil dari ginjal disebut nefron.
Nefron itu tersusun atas badan malphigi (Glomerulus , Kapsula Bowman) TCP ,Gelung Henle , TCD dan TK yang diginjal ada di bagian kortex dan Medulla  
Glomerulus berupa suatu ruang yang dibungkus oleh Kapsul tipis berupa kapsula Bowman dimasuki oleh pembuluh darah kapiler yang berisi darah kotor untuk segera dicuci di ruang ini  
Tubulus Contortus Proximal berupa saluran saluran halus yang digunakan untuk muara hasil filtrasi darah di glomerulus , ujungnya di Kortex tempat Glomerulus dan pangkalnya di Medulla  
Gelung glomerulus yang terdiri atas anyaman kapiler tersebut, ditunjang oleh jaringan yang disebut mesangium,  
Mesangium yang terdiri atas matriks ( ruang sela) dan sel mesangial. (lihat gambar )
    ginjal 3
    Gambar Bagian-bagian nefron
     
     Proses pembentukan urine :
    1. Filtrasi         :   dihasilkan filtrat glomerulus(urine primer)
    2. Reabsorbsi  :   dihasilkan filtrat tubulus (urine sekunder)
    3. Augmentasi :  dihasilkan urine sesungguhnya


    1. Penyaringan (filtrasi)

        Zat-zat yang difilltrasi ginjal dibagi dalam 3 bagian yaitu : non elektrolitelektrolit , dan air. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal
        Seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler glumerulus secara relatif bersifat impermiabel terhadap protein plasma yang besar dan cukup permabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen. Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood Flow) adalah sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit. Sekitar seperlima dari plasma atau sekitar 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke kapsula bowman. Ini dikenal dengan laju filtrasi glomerulus (GFR = Glomerular Filtration Rate). Tekanan filtrasi berasal dari perbedaan tekanan yang terdapat antara kapiler glomerulus dan kapsula bowman’s, Tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus mempermudah filtrasi dan kekuatan ini dilawan oleh tekanan hidrostatik filtrat dalam kapsula bowman’s serta tekanan osmotik koloid darah. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan-tekanan koloid diatas namun juga oleh permeabilitas dinding kapiler. Jadi filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus dalam kapsul Bowman.  Selain penyaringan, di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus atau disebut pula urine primer Pada filtrat glomerulus masih dapat ditemukan asam amino darah misal globulin , fibrinogen , glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya yamng terlarut.
          2. Penyerapan kembali (Reabsorbsi)

          Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus.
          Setelah filtrasi langkah kedua adalah reabsorpsi selektif zat-zat tersebut kembali lagi zat-zat yang sudah difiltrasi.dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali.
          Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan filtrat tubulus atau sering disebut dengan urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer.Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi.Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03 % dalam urin primer naik pesat menjadi 2% dalam urin sekunder. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi sedangkan air melalui peristiwa osmosis.Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. 

          3.Pembuangan ( Augmentasi )
           
          Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal membentuk urine benar .Urine ini kemudian dialirkan ke Tubulus Kolektivus .Komposisi urin ini yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin. Urine itu kita kenal dengan sebutan Urine sesungguhnya karena memang benar benar urine. Urine keluar dari ureter dan ditampung di vesica urinaria ( kantung kemih ) selanjutnya nanti urine akan dikeluarkan dari tubuh melalui urethra
          Hal-hal yang Mempengaruhi Produksi Urin
          Hormon anti diuretik (ADH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis posterior akan mempengaruhi penyerapan air pada bagian tubulus distal karma meningkatkan permeabilitias sel terhadap air. Jika hormon ADH rendah maka penyerapan air berkurang sehingga urin menjadi banyak dan encer. Sebaliknya, jika hormon ADH banyak, penyerapan air banyak sehingga urin sedikit dan pekat. Kehilangan kemampuan mensekresi ADH menyebabkan penyakti diabetes insipidus. Penderitanya akan menghasilkan urin yang sangat encer.
          Gambar 4:
          Mekanisme kerja pengaruh hormon ADH terhadap produksi urin.

          Selain ADH, banyak sedikitnya urin dipengaruhi pula oleh faktor-faktor berikut :
          a. Jumlah air yang diminum

          Akibat banyaknya air yang diminum, akan menurunkan konsentrasi protein yang dapat menyebabkan tekanan koloid protein menurun sehingga tekanan filtrasi kurang efektif. Hasilnya, urin yang diproduksi banyak.

          b. Saraf
          Rangsangan pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus aferen sehingga aliran darah ke glomerulus berkurang. Akibatnya, filtrasi kurang efektif karena tekanan darah menurun.
          c. Banyak sedikitnya hormon insulin
          Apabila hormon insulin kurang (penderita diabetes melitus), kadar gula dalam darah akan dikeluarkan lewat tubulus distal. Kelebihan kadar gula dalam tubulus distal mengganggu proses penyerapan air, sehingga orang akan sering mengeluarkan urin. 

          Gangguan/penyakit pada sistem ekskresi

          n      Hematuria
          Tanda: urine mengandung darah
          Penyebab: peradangan ginjal, batu ginjal dan kanker kandung kemih

          n      Nefrolitiasis (batu ginjal)
          Tanda: urine sulit keluar karena tersumbat batu pada ginjal, saluran ginjal atau kandung kemih
          Penyebab: konsentrasi unsur-unsur kalsium  terlalu tinggi dan dipercepat dengan infeksi dan penyumbatan saluran ureter
          Akibat: sulit mengeluarkan urine, urine bercampur darah

          n      Nefritis
          Tanda: radang ginjal bagian nefron yang diawali peradangan glomerulus

          n      Gagal ginjal
          Tanda : Meningkatnya kadar urea dalam darah
          Penyebab : nefritis (radang ginjal)
          Akibat : zat-zat yang seharusnya dibuang oleh ginjal tertumpuk dalam darah
          Pengobatan : cuci darah secara rutin atau cangkok ginjal

          Diabetes Insipidus
          Tanda : meningkatnya jumlah urine (20 – 30 kali lipat)
          Penyebab : kekurangan hormon antidiuretika (ADH)
          Akibat : sering buang urine
          Pengobatan : pemberian ADH sintetik

          Diabetes Melitus
          Tanda : kadar glukosa darah melebihi normal
          Penyebab : kekurangan hormon insulin
          Akibat : luka sulit sembuh
          Pengobatan : pada anak-anak diberi insulin secara rutin dan pada dewasa dilakukan diet rutin, olahraga dan pemberian obat penurun kadar glukosa darah

          Hepatitis
          Tanda : perubahan warna kulit dan putih mata menjadi kuning, urine menjadi kecoklatan seperti air teh
          Penyebab : virus
          Akibat : hati meradang dan kerja hati terganggu
          Pencegahan : menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung atau penggunaan barang bersama-sama dengan penderita hepatitis, gunakan jarum suntik untuk sekali pakai.

          Sirosis Hati
          Tanda: timbulnya jaringan parut dan kerusakan sel-sel pada hati
          Penyebab: minuman alkohol, keracunan obat, infeksi bakteri, komplikasi hati
          Akibat: gangguan kesadaran, koma, kematian
          Pengobatan : sesuai penyebabnya, pemulihan fungsi hati dan transplantasi hati

          Gangren
          Tanda: kematian jaringan lunak pada kaki atau tangan diawali dengan kebiruan pada kulit dan terasa dingin jika disentuh, kemudian menghitam dan berbau busuk
          Penyebab: gangguan pengaliran darah kejaringan tersebut. Sering terjadi pada penderita diabetes melitus dan aterosklerosis
          Akibat: bila tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik, bagian terkena gangren harus diamputasi.


          Bahan renungan
          Apakah setiap anda melakukan defekasi ( BAB ) senantiasa diiringi dengan keluarnya urine ( BAK ) ? Jika tidak lupakan, (berarti anda  luar biasa), Jika Ya (berarti anda manusia biasa) coba pikirkan / cari jawabannya mengapa demikian ?  

            Tidak ada komentar: